
aku mengerti, aku berhenti…
riuh nan senandunya hujan akan perlahan melirih seperti bulan yang kian berganti dengan mentari yang saling terpaku dengan cakrawala sampai kiamat nanti.
melakukan hal yang sekiranya menyenangkan sang pemikat hati, walau tak pernah diberi empati.
nyatanya, jerih yang selalu di usahakannya tak pernah kembali, jauh melampau dari ekspektasi yang kerap dinanti.
kini ia hanya bisa merenungi impian yang tak akan pernah terjadi, melangkah limbung setiap hari, sambil menyembunyikan luka yang abadi.
tampil dengan berseri, yang tak selaras dengan sanubari, sembari menyusun rencana esok hari yang diselingi dengan pertanyaan yang ia ajukan kepada sang maha pembolak-balik hati,
“mengapa selalu seperti ini…”
meskipun ia tahu, irama yang didengarnya sebagai janji hanyalah sebuah narasi untuk memberikan mimpi yang akan tetap menjadi ilusi.
