
Hari ini, hari yang pernah ku harap menjadi puncak kebahagiaanku, kini menjadi mimpi buruk yang tidak pernah ingin ku alami.
Bagaimana tidak?
Harusnya, akulah yang ada disana bersamanya. Harusnya, akulah yang duduk diatas singgasana, menikmati pesta yang beriringan dengan irama, dan menyantap hidangan seperti raja.
“Hahaha”
Tetapi, sepertinya ia lebih bahagia jika bukan diriku yang ada disampingnya. Ia lebih memilih untuk menghabiskan sisa nafasnya bersama orang lain.
Apa yang dilakukannya jelas berbeda dibanding perkataannya setahun lalu.
Aku tidak mengerti.
“Mengapa orang yang memiliki paras jelita, selalu memberikan tusukan pedang yang menembus raga?”
atau…
“Hanya diriku yang berpikir demikian?”
Disaat pintu hatiku terbuka setelah sekian lama mendekam dibalik gerhana, mereka pergi; meninggalkanku sendiri dan membuatku terbenam didalam kegelapan.
Terkadang, saat purnama menyinari gelapnya kampung yang gulita, jiwaku berbisik pelan kepada Yang Maha Penguasa…
“Apa…
Takdirku memang seperti ini jalannya?”
~ z,
10/9/26
