
di saat kutengah berjalan menyusuri daerah yang baru saja kudatangi, pandanganku tiba-tiba terpikat pada sepasang mata yang sedang menatapi sungai.
seorang kakek berkata kepadaku,
“ialah sang putri desa, orang yang paling jelita di wilayah pedesaan kecil ini”.
tanpa memedulikannya, aku hanya melanjutkan apa yang sedang aku kerjakan.
matahari perlahan bersembunyi, yang menandakan langit merah akan berganti malam.
aku bergegas menuju tempatku beristirahat untuk hari ini.
lantas aku membersihkan diri, sembari menyiapkan segelas kopi dan helaian roti.
saat sedang termenung di bawah terang rembulan sembari melirih, tanpa sadar aku menyebutkan namanya.
“bisakah orang sepertiku merasakan cinta? tanyaku kepada malam, dengan bisikan tawa yang menyedihkan”
malam semakin larut, hingga semua terlelap di dalam kesunyian, dan aku semakin memikirkannya.
hingga sebuah bintang jatuh melintas di atas langit, meyakinkanku untuk pertama kalinya bahwa bola mata yang sedari tadi kupandangi ternyata membuatku terperosok jatuh ke dalam lubang cinta yang secara logika tak akan pernah menjadi nyata.
ia adalah seorang putri, sedangkan aku hanyalah seorang pengembara yang tak memiliki tujuan.
“bagaimana mungkin? bersamanya hanyalah mimpi”
perlahan, cahaya rembulan mulai meredup, lingkaran waktu telah menunjukkan pukul 1 malam, aku harus segera tertidur untuk melanjutkan aktivitasku esok hari.
tiba-tiba, aku dikejutkan dengan seorang wanita yang membangunkan lelapku, yang membuatku bertanya
“siapakah engkau?”
saat ia menghadapkan wajahnya kepadaku, alangkah terkejutnya aku. ialah sang putri desa, orang yang bola matanya memikat perhatianku.
“sedikit lagi engkau harus pergi bekerja, sayang”
ucapnya.
aku hanya terdiam, siapa sangka? orang yang mengisi kepalaku, kini ada di depanku.
di balik diamku, aku merasa sangat senang, tuhan mendengar lirihku semalam.
tiba saatnya aku harus melanjutkan aktivitasku, namun aku memilih untuk menepikan dunia sejenak, dan menghabiskan waktuku hari ini bersamanya.
kami akhirnya benar-benar bersama selama seharian penuh.
tak terasa, cahaya matahari kembali meredup dan malam akan segera tiba. kami bersiap untuk makan malam dan membereskan tempat itu setelahnya lalu beristirahat.
di saat akan tidur, ia tiba-tiba berkata
“selamat tinggal, sayang”
“kenapa? apa yang terjadi sayang?”
“kamu tahu? ini adalah dunia mimpi…”
“kamu harus kembali ke duniamu”
betapa hancurnya perasaanku, mengetahui kebahagiaan yang baru saja kurasakan, ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka.
aku berkata kepadanya
“jika bersamamu adalah mimpi, maka izinkan aku untuk terlelap selamanya, agar aku senantiasa bersamamu.
biarkan aku menjadi pendampingmu, sayang”
hingga akhirnya aku terbangun dengan sendirinya, termenung memikirkan hal yang baru saja kualami. ia terasa sangat nyata, meskipun aku tahu itu adalah mimpi, ia adalah hal terindah yang akan selalu kujadikan kenangan manis.
mungkin bersamanya akan tetap menjadi niskala, yang akan kuukir di dalam sanubariku hingga akhir masa.
